{"id":63,"date":"2026-03-21T09:47:56","date_gmt":"2026-03-21T09:47:56","guid":{"rendered":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/?p=63"},"modified":"2026-03-21T09:47:56","modified_gmt":"2026-03-21T09:47:56","slug":"dari-tempat-transaksi-narkoba-hingga-menjadi-sekolah-terbaik-di-dunia-kisah-sebuah-sekolah-di-brasil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/2026\/03\/21\/dari-tempat-transaksi-narkoba-hingga-menjadi-sekolah-terbaik-di-dunia-kisah-sebuah-sekolah-di-brasil\/","title":{"rendered":"Dari tempat transaksi narkoba hingga menjadi sekolah terbaik di dunia \u2013 Kisah sebuah sekolah di Brasil"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panggilan dari dewan pendidikan setempat kepada R\u00e9gis Marques pada 2016 mengubah hidup dan pandangannya. Meski sempat ragu ketika hendak ditempatkan menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Negeri Parque dos Sonhos, Marques tetap menjalani tantangan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Saya mengamati sekolah itu secara online. Cerita pertama yang saya temukan menyebutkan lingkungan sekolah itu tidak aman dan rawan tindak kekerasan. Laporan lain menggambarkan pencurian dan perampokan di sekolah,&#8221; kenang Marques yang semula merupakan guru sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Laporan lain lagi, ada pengedar narkoba masuk ke sekolah dan membuat kacau selama sebuah festival.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia terkejut dengan situasi sekolah yang terletak di Cubat\u00e3o di pesisir Negara Bagian S\u00e3o Paulo, Brasil ini. Dengan reputasi yang begitu buruk, Parque dos Sonhos bahkan dijuluki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Parque dos Pesadelos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau Taman Mimpi Buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Saya berpikir, &#8216;Ya Tuhan, apakah saya benar-benar akan pergi ke sekolah itu?'&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir 10 tahun kemudian, terjadi transformasi positif sekolah yang sangat dramatis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2025, sekolah tersebut menerima penghargaan sebagai &#8216;Sekolah Terbaik di Dunia&#8217; dalam kategori Mengatasi Kesulitan. Penghargaan ini diselenggarakan oleh T4 Education yang berbasis di UK.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parque dos Sonhos didirikan pada 2014 untuk melayani anak-anak di komunitas tersebut. Komunitas itu terbentuk pada 2013 yang berisi keluarga-keluarga pindahan dari area rawan longsor di Pegunungan Serra do Mar, pegunungan di bagian tenggara Brasil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah tempat komunitas ini bermukim minim infrastruktur. Bentangannya hanya berupa hutan, sungai, dan sejumlah kecil rumah. Akibatnya, orang-orang dari luar komunitas sekolah mudah memasuki area sekolah tanpa izin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Seringkali kami menemukan botol kokain, kondom bekas, pakaian bekas, seprai, botol alkohol, dan barang-barang semacam itu,&#8221; kenang Marques.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/articles\/cp8rx6v2z5po\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pada hari kedua saya menjabat sebagai kepala sekolah, kantor saya diserang dengan batu.&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awal 2016, hanya 116 siswa yang terdaftar. Jumlah itu jauh di bawah kapasitas sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Setengah dari siswa telah meminta pindah karena mereka tidak ingin belajar di sini akibat kekerasan, serangan, dan dampak dari pencurian,&#8221; kata Marques.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia pun menetapkan tujuan ambisius, yakni mengubah salah satu sekolah paling rentan di wilayah tersebut menjadi sekolah terbaik di negara bagian dalam lima tahun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kekuatan transformasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Target Marques tersebut terasa tidak masuk akal. Hal ini diceritakan oleh guru bahasa Portugis, Maria de Lourdes Amorim, yang telah mengajar selama 32 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Bayangkan, seorang pemuda dari S\u00e3o Paulo berbicara kepada sekelompok guru yang lebih tua darinya, dengan pengalaman jauh lebih banyak di bidang pendidikan,&#8221; ujar Amorim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah pertama yang dilakukan adalah memperbaiki bangunan, yaitu dinding, lantai, dan furnitur. Dengan dana terbatas, sekolah mencari bantuan dari perusahaan swasta dengan mengirimkan 135 surat, hingga berhasil mengumpulkan sekitar US$18.800 atau setara Rp316,5 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, hubungan dengan komunitas juga diperkuat. Beberapa cara dilakukan, seperti membuka kursus persiapan untuk ujian masuk universitas dan pengembangan karier di sektor publik yang dijalankan staf sekolah. Kemudian, sekolah untuk warga sekitar pada akhir pekan juga mulai dibuka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah tersebut juga memperluas kurikulumnya, melampaui mata pelajaran tradisional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, sekolah yang sempat bergulat dengan reputasi buruk ini menawarkan 23 mata pelajaran yang beragam, mulai dari memasak hingga olahraga, termasuk aktivitas yang jarang ditemukan di sekolah umum seperti bulu tangkis dan seluncur es.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pada saat yang sama, kami mulai mendengarkan siswa kami dan mengadopsi pendekatan yang lebih humanis yang benar-benar berfokus pada mereka,&#8221; jelas Marques.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi siswa, perubahan ini telah mengubah cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan tuntutan jadwal yang penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;<a href=\"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/\">Awalnya saya pikir ini hanya ruang kelas biasa dan tidak terlalu menyukainya<\/a>,&#8221; kata Ester, murid berusia 12 tahun yang telah belajar di Parque dos Sonhos selama tujuh tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Tapi sekolah mulai menawarkan mata pelajaran baru, dan sekarang benar-benar keren, karena kita tidak hanya berada di dalam ruang kelas.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ester menemukan minatnya di kelas teater, yang diadakan di akhir jam sekolah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terinspirasi dari model Kuba<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pengembangan di lingkungan sekolah, Marques yang mengaku terinspirasi dengan model pendidikan Kuba memulai inisiatif berupa mengunjungi keluarga siswa di rumah mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program yang disebut &#8220;Sekolah Datang ke Rumah Anda&#8221; mengidentifikasi siswa yang sering absen atau punya perilaku khusus. Tim sekolah kemudian menjadwalkan pertemuan dengan orang tua atau wali mereka pada akhir pekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah cara untuk memahami realitas siswa di luar dinding sekolah, karena banyak dari mereka menghadapi kondisi sulit bahkan sebelum masuk ke kelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini adalah cara untuk menempatkan diri di posisi siswa, melihat tantangan yang mereka hadapi dan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka,&#8221; jelas Marques.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Panggilan dari dewan pendidikan setempat kepada R\u00e9gis Marques pada 2016 mengubah hidup dan pandangannya. Meski sempat ragu ketika hendak ditempatkan menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Negeri Parque dos Sonhos, Marques tetap menjalani tantangan tersebut. &#8220;Saya mengamati sekolah itu secara online. Cerita pertama yang saya temukan menyebutkan lingkungan sekolah itu tidak aman dan rawan tindak kekerasan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":64,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[7],"class_list":["post-63","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-sekolah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":66,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63\/revisions\/66"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn16jkt.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}