Panggilan dari dewan pendidikan setempat kepada Régis Marques pada 2016 mengubah hidup dan pandangannya. Meski sempat ragu ketika hendak ditempatkan menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Negeri Parque dos Sonhos, Marques tetap menjalani tantangan tersebut.
“Saya mengamati sekolah itu secara online. Cerita pertama yang saya temukan menyebutkan lingkungan sekolah itu tidak aman dan rawan tindak kekerasan. Laporan lain menggambarkan pencurian dan perampokan di sekolah,” kenang Marques yang semula merupakan guru sejarah.
“Laporan lain lagi, ada pengedar narkoba masuk ke sekolah dan membuat kacau selama sebuah festival.”
Ia terkejut dengan situasi sekolah yang terletak di Cubatão di pesisir Negara Bagian São Paulo, Brasil ini. Dengan reputasi yang begitu buruk, Parque dos Sonhos bahkan dijuluki Parque dos Pesadelos atau Taman Mimpi Buruk.
“Saya berpikir, ‘Ya Tuhan, apakah saya benar-benar akan pergi ke sekolah itu?'”
Hampir 10 tahun kemudian, terjadi transformasi positif sekolah yang sangat dramatis.
Pada 2025, sekolah tersebut menerima penghargaan sebagai ‘Sekolah Terbaik di Dunia’ dalam kategori Mengatasi Kesulitan. Penghargaan ini diselenggarakan oleh T4 Education yang berbasis di UK.
Parque dos Sonhos didirikan pada 2014 untuk melayani anak-anak di komunitas tersebut. Komunitas itu terbentuk pada 2013 yang berisi keluarga-keluarga pindahan dari area rawan longsor di Pegunungan Serra do Mar, pegunungan di bagian tenggara Brasil.
Daerah tempat komunitas ini bermukim minim infrastruktur. Bentangannya hanya berupa hutan, sungai, dan sejumlah kecil rumah. Akibatnya, orang-orang dari luar komunitas sekolah mudah memasuki area sekolah tanpa izin.
“Seringkali kami menemukan botol kokain, kondom bekas, pakaian bekas, seprai, botol alkohol, dan barang-barang semacam itu,” kenang Marques.
“Pada hari kedua saya menjabat sebagai kepala sekolah, kantor saya diserang dengan batu.”
Pada awal 2016, hanya 116 siswa yang terdaftar. Jumlah itu jauh di bawah kapasitas sekolah.
“Setengah dari siswa telah meminta pindah karena mereka tidak ingin belajar di sini akibat kekerasan, serangan, dan dampak dari pencurian,” kata Marques.
Ia pun menetapkan tujuan ambisius, yakni mengubah salah satu sekolah paling rentan di wilayah tersebut menjadi sekolah terbaik di negara bagian dalam lima tahun.
Kekuatan transformasi
Target Marques tersebut terasa tidak masuk akal. Hal ini diceritakan oleh guru bahasa Portugis, Maria de Lourdes Amorim, yang telah mengajar selama 32 tahun.
“Bayangkan, seorang pemuda dari São Paulo berbicara kepada sekelompok guru yang lebih tua darinya, dengan pengalaman jauh lebih banyak di bidang pendidikan,” ujar Amorim.
Langkah pertama yang dilakukan adalah memperbaiki bangunan, yaitu dinding, lantai, dan furnitur. Dengan dana terbatas, sekolah mencari bantuan dari perusahaan swasta dengan mengirimkan 135 surat, hingga berhasil mengumpulkan sekitar US$18.800 atau setara Rp316,5 juta.
Selain itu, hubungan dengan komunitas juga diperkuat. Beberapa cara dilakukan, seperti membuka kursus persiapan untuk ujian masuk universitas dan pengembangan karier di sektor publik yang dijalankan staf sekolah. Kemudian, sekolah untuk warga sekitar pada akhir pekan juga mulai dibuka.
Sekolah tersebut juga memperluas kurikulumnya, melampaui mata pelajaran tradisional.
Saat ini, sekolah yang sempat bergulat dengan reputasi buruk ini menawarkan 23 mata pelajaran yang beragam, mulai dari memasak hingga olahraga, termasuk aktivitas yang jarang ditemukan di sekolah umum seperti bulu tangkis dan seluncur es.
“Pada saat yang sama, kami mulai mendengarkan siswa kami dan mengadopsi pendekatan yang lebih humanis yang benar-benar berfokus pada mereka,” jelas Marques.
Bagi siswa, perubahan ini telah mengubah cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan tuntutan jadwal yang penuh.
“Awalnya saya pikir ini hanya ruang kelas biasa dan tidak terlalu menyukainya,” kata Ester, murid berusia 12 tahun yang telah belajar di Parque dos Sonhos selama tujuh tahun.
“Tapi sekolah mulai menawarkan mata pelajaran baru, dan sekarang benar-benar keren, karena kita tidak hanya berada di dalam ruang kelas.”
Ester menemukan minatnya di kelas teater, yang diadakan di akhir jam sekolah.
Terinspirasi dari model Kuba
Selain pengembangan di lingkungan sekolah, Marques yang mengaku terinspirasi dengan model pendidikan Kuba memulai inisiatif berupa mengunjungi keluarga siswa di rumah mereka.
Program yang disebut “Sekolah Datang ke Rumah Anda” mengidentifikasi siswa yang sering absen atau punya perilaku khusus. Tim sekolah kemudian menjadwalkan pertemuan dengan orang tua atau wali mereka pada akhir pekan.
Ini adalah cara untuk memahami realitas siswa di luar dinding sekolah, karena banyak dari mereka menghadapi kondisi sulit bahkan sebelum masuk ke kelas.
“Ini adalah cara untuk menempatkan diri di posisi siswa, melihat tantangan yang mereka hadapi dan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka,” jelas Marques.